Pertanyaan Saat Ta'aruf untuk Calon Suami (dan yang Sebaiknya Tidak Ditanyakan)
Ta'aruf, bukan pacaran: tujuannya saling mengenal dengan niat menikah, dengan cara yang terjaga dan melibatkan keluarga. Karena waktunya terbatas, pertanyaan yang tepat sangat berharga. Pertanyaan yang baik bukan untuk menginterogasi, tetapi untuk memahami agama, akhlak, dan arah hidup calon suami sebelum hati terlanjur terikat.
Sebelum mulai: niat dan adab bertanya
- Libatkan wali atau keluarga sejak awal. Pertemuan sebaiknya ditemani mahram atau perantara yang kamu percaya, dan percakapan online tetap terbuka, tidak sembunyi-sembunyi.
- Hindari berduaan (khalwat). Pilih tempat dan cara berkomunikasi yang membuatmu dan keluargamu tenang.
- Dahulukan hal yang paling menentukan: agama, anak, tempat tinggal, dan keuangan. Kalau di sini tidak cocok, lebih baik ketahuan di awal.
- Perhatikan cara ia menjawab, bukan hanya isi jawabannya. Jujur saat tidak enak itu tanda akhlak yang baik.
- Ta'aruf berlaku dua arah. Siapkan juga jawaban jujurmu sendiri untuk pertanyaan yang sama.
1. Agama dan ibadah
- Bagaimana kamu menggambarkan hubunganmu dengan Allah saat ini, dan ke mana kamu ingin membawanya?
- Seperti apa kebiasaan salatmu sehari-hari?
- Kepada siapa kamu biasa belajar agama atau bertanya kalau ada masalah?
- Peran apa yang kamu harapkan dari Islam di rumah tangga kita dan dalam mendidik anak, insyaAllah?
- Bagaimana pandanganmu soal menutup aurat, untuk dirimu sendiri dan untuk istri?
2. Akhlak dan kepribadian
- Apa yang biasanya kamu lakukan saat marah? Boleh ceritakan contoh nyata?
- Kalau kamu berbuat salah kepada seseorang, bagaimana caramu memperbaikinya?
- Bagaimana kamu memperlakukan orang yang tidak bisa memberimu apa-apa, seperti pelayan, pengemudi ojek, atau rekan kerja junior?
- Kebiasaan apa yang sedang kamu usahakan untuk diubah?
3. Keluarga dan peran dalam rumah tangga
- Bagaimana hubunganmu dengan orang tua dan saudara-saudaramu?
- Seberapa jauh orang tua akan terlibat dalam keputusan kita nanti?
- Setelah menikah kita akan tinggal di mana? Apakah ada rencana tinggal bersama orang tua atau mertua?
- Menurutmu, seperti apa peran suami dan peran istri dalam rumah tangga?
- Bagaimana pandanganmu kalau istri bekerja, sebelum dan sesudah punya anak?
4. Keuangan dan pekerjaan
- Apa pekerjaanmu sekarang, dan ke mana arah kariermu?
- Apakah kamu punya utang atau cicilan, termasuk paylater atau pinjaman online? Bagaimana rencana melunasinya?
- Apakah ada tanggungan keluarga yang akan terus kamu bantu setelah menikah?
- Bagaimana pandanganmu tentang mahar, biaya walimah, dan pengelolaan keuangan rumah tangga?
- Bagaimana kebiasaanmu soal zakat dan sedekah?
5. Anak dan masa depan
- Apakah kamu ingin punya anak, dan kira-kira kapan?
- Nilai apa yang paling ingin kamu wariskan kepada anak-anak?
- Pendidikan seperti apa yang kamu bayangkan untuk anak: pesantren, sekolah Islam, atau sekolah umum? Kenapa?
- Di mana kamu melihat keluarga kita sepuluh tahun lagi?
6. Saat ada perbedaan
- Bagaimana keluargamu dulu menyelesaikan pertengkaran?
- Kalau kita tidak bisa menyelesaikan masalah berdua, kepada siapa sebaiknya kita meminta nasihat?
- Apakah ada hal dari masa lalumu yang berdampak pada pernikahan dan perlu aku ketahui, misalnya soal kesehatan, pernikahan sebelumnya, atau anak?
Pertanyaan yang sebaiknya tidak ditanyakan
Tidak semua hal perlu, atau pantas, ditanyakan saat ta'aruf. Beberapa contoh yang sebaiknya dihindari:
- Mengorek aib masa lalu yang sudah ditinggalkan. Yang penting adalah kejujuran tentang hal yang berdampak pada pernikahan, seperti utang, kesehatan, atau pernikahan sebelumnya, bukan rincian kesalahan lama.
- Pertanyaan yang menjurus ke hal intim atau fisik sebelum akad.
- Meminta foto pribadi atau video call berdua tanpa sepengetahuan wali.
- Menanyakan gaji persis atau harta keluarganya di pertemuan pertama. Cukup bahas cara ia mengelola keuangan dan kesanggupannya menafkahi; rinciannya bisa dibicarakan bersama wali saat sudah serius.
- Pertanyaan untuk menguji atau menjebak. Ta'aruf bukan sidang. Tujuannya saling memahami, bukan mencari-cari kesalahan.
Lalu bagaimana memutuskan?
Setelah pertanyaan dijawab dan keluarga sudah saling bicara, banyak orang menutup prosesnya dengan salat istikharah dan musyawarah bersama orang tua. Jangan ragu mundur dengan baik kalau ada hal yang tidak cocok. Itu bukan kegagalan; justru itulah gunanya ta'aruf.
Artikel ini adalah informasi umum, bukan fatwa. Untuk situasimu sendiri, tanyakan kepada ustadz atau ustadzah yang kamu percaya.
Ta'aruf dengan wali tetap terlibat
MuslimahFirst adalah aplikasi untuk menikah, bukan untuk pacaran. Secara default, akhwat yang mengirim pesan pertama, dan ia bisa mengizinkan ikhwan menulis lebih dulu kalau mau. Foto terlihat secara default; akhwat bisa memilih foto buram (blur) sampai terjadi match dengan satu ketukan. Kamu bisa menjelajah profil dengan filter, dan portal wali yang opsional memungkinkan walimu ikut melihat match dan percakapanmu (hanya baca). Semuanya gratis.
Catatan: tampilan aplikasi MuslimahFirst saat ini masih dalam bahasa Inggris.
Daftar gratis →